Sabtu, 04 Maret 2017
Tertantang Jadi Guru
SATU hal yang membuat Urip Damayanti menyukai profesinya sebagai guru yakni, merindukan siswa-siswinya yang selalu berganti setiap tahun. Baginya, mendidik anak dengan berbagai karakter merupakan tantangan tersendiri.
"Sebenarnya tidak ada anak yang nakal, mereka hanya kelebihan energi," kata guru SMP Assyafaah Kebonsari tersebut. Sehingga, untuk menangani mereka, perlu pendekatan khusus agar energinya tersalurkan pada kegiatan positif.
Perempuan kelahiran 27 Maret 1982 tersebut mengar sejak tahun 2003 lalu. Hal itu bermula ketika dirinya diajak oleh temannya mengisi kegiatan yang kosong. Sebab, saat kuliah di Fakultas MIPA Unej sudah semester akhir dan aktivitas kuliah berkurang.
Dari sana dia mengisi kegiatan sosialnya dengan mengajar siswa di Pondok Pesantren. Urip terus menekuni kegiatan itu hingga menjadi profesi sampai sekarang. "Pertama jadi, tantangannya memotivasi siswa agar semangat belajar," jelasnya.
Karena waktu itu minat belajar serta disiplin masih kurang. Apalagi, Urip belum bisa menguasai materi teknik mendidik yang baik. "Akhirnya saya ikut akta IV agar bisa memahami teknik mendidik," akunya.
Alumni SMAN 2 Jember akhirnya terbiasa mengajar di kelas. Bahkan, dirinya selalu tertarik untuk saat waktu mengajar. Setiap tahun selalu berganti siswa, hal itu membuat kangen.
Tak hanya itu, Urip juga dipercaya menjadi kepala sekolah SMP Maslahatul Ikhwan sekitar September 2016 lalu. Kepercayaan untuk memimpin lembaga baru tersebut dilakukannya dengan baik. "Tantangan di sana, guru banyak yang baru sehingga harus membina, seperti administrasi," ujarnya.
Sebab, banyak guru yang yang baru lulus kuliah lalu menjadi guru. Pengalaman mereka masih sedikit dan perlu mendapat bimbingan agar bisa memajukan sekolah. "Sekolah membutuhkan pengganti untuk pemimpin yang sebelumnya, saya yang ditunjuk," pungkasnya. (lin/c1/hdi)
Sumber :Jawa Pos Radar Jember, 14 Februari 2017
disalin oleh :(er)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar